Mengembalikan Kejayaan Kopi Robusta

Apakah kopi robusta pernah jaya? Pernah. Bahkan, seturut keterangan nenek moyang, harga kopi per 1 kilogram kopi robusta pernah sama dengan 1 gram emas. Demikian keterangan dari Pak Anshary, ketua kelompok tani Maju Mukti, Desa Tembelang, Kalikajar, Wonosobo dalam bincang-bincang kopi (29/11/2016).

perangkan-manual-brewing

Kopi Robusta memang datang belakangan ke Nusantara setelah banyak tanaman Arabica terserang daun karat, tetapi sekarang robusta justru mendominasi. Pasar kopi robusta juga tetap terbuka, meski harganya cenderung lebih murah ketimbang arabica. Soal kenapa robusta bisa lebih murah, mungkin karena produksinya yang melimpah, mudah tumbuh di daerah rendah, dan tahan dari serangan hama. Berbeda dengan arabika yang lebih sering bisa dijumpai di atas 700 mdpl, dan produksinya lebih sedikit.

perbedaan-kopi-arabica-dan-robusta

Cita rasa arabica dan robusta memang berbeda, dan masing-masing punya peminat dan penikmatnya sendiri. Belum tentu rasa asam arabica lebih disukai ketimbang pahitnya robusta. Bagi yang biasa menikmati robusta dalam kesehariannya, justru akan merasa aneh saat mencoba mencicipi arabica, asem-asemnya bisa jadi membuatnya berpikir bahwa itu kopi basi, atau lebih dengan gaya filsuf akan berasumsi: asem araica dipengaruhi keringat petani yang berfermentasi dengan hawa dingin pegununga. Anda sendiri suka yang mana, dan kenapa?

Robusta Tembelang

bincang-kopi-komunitas-join-kopi-wonosobo

Desa Tembelang, yang terletak di kecamatan Kalikajar, Kabupaten Wonosobo, sudah dikenal sebagai daerah penghasil kopi sejak lama. Mas Anshary menjelaskan sejarah kopi di sana dengan nada kalem: “Sebagaimana kayu di Kalimantan, karena saking banyaknya, dulu tidak ada haganya. Demikian pula kopi. Tahun 1950-an warga secara serentak menanam kopi, dan tak dinyana tanaman tumbuh dengan amat subur, dan tidak dalam waktu lama kopi sudah berbuah sangat banyak.” Meski harganya murah, tapi karena produksinya begitu melimpah kopi di Tembelang tetap bertahan.

Bayangkan, untuk satu pohon kopi kadang ada yang menghasilkan 50 kg cherry bean. Berapa ton dihasilkan jika ada 1000 pohon? Perawatan yang mudah dan panen melimpah inilah yang membuat kopi robusta tetap bertahan.

Harga kopi memang fluktiatif, hampir sama dengan produk pertanian lainnya, naik turun di sebabkan entah apa. Tahun 1970 s.d 1980an harga kopi perlahan merangkak naik, dan pada tahun 2000-an biji kopi kembali murah. Pada awal milenium kedua itulah sebagian besar petani Tembelang memutuskan untuk menanami lahan-lahan mereka kayu keras, albasia misalnya. Kopi memang tidak sepenuhnya dihilangkan, hanya saja ketika kayu-kayu ditebang banyak tanaman kopi yang menjadi korban.

Anshary yang gelisah dengan keadaan pertanian di desanya kemudian membentuk kelompok tani tahun 2005 yang diberi nama Maju Mukti. Tujuannya, tidak lain memajukan sektor pertanian di Desa Tembelang, khususnya kopi.

Belajar dan belajar, itulah prinsip yang harus dipegang siapa saja, termasuk Anshary dan rekan-rekannya. Kopi tembelang kembali dirawat, proses pengolahannya diperbaiki, sehingga dari tahun ke tahun kualitasnya mengalami peningkatan. Hingga sekarang, Kopi Tembelang baru akan mengajukan sertifikasi kopi organik kelas internasional dengan difasilitasi pemerintah Propinsi.

Cupping Test Robusta Tembelang

cupping-test-robusta-tembelang

Di sela bincang kopi tak lupa dilakukan pula cupping test atau uji cita rasa untuk kopi Tembelang. Dua cangkir kopi Tembelang di seduh dengan metode tubruk, di letakkan tengah hadirin. Menjadi penguji pertama adalah Mas Eed, pawangnnya Bowongso Coffee, yang juga sering ikut berkiprah memajukan kopi Tembelang bersama Pak Anshary. Setelah mencium aromanya, menyendok, menyeruput, Mas Eed membeberkan apa yang baru dirasakannya:

Menurutnya, kopi robusta tembelang punya keunikan. Berbeda dengan kopi robusta dari daerah lain yang memunculkan aroma earthy, robusta Tembelang tidak memunculkan itu. Body cenderung ringan, dibanding robusta dari daerah lain. Karakter chocholate terasa kuat. Woody muncul, dan ada sedikit spicy herbal. After taste bagus.

Bincang kopi sore itu masih terur berlangung, kian menghangat ketika Pak Harjanto, owner Decoffee yang juga seorang Q-Grader datang. Hasil cupping test yang dilakukan oleh Pak Harjanto juga tidak jauh beda dengan Mas Eed.

pawang-kopi-wonosobo

Kopi Javanica

Di tembelang juga terdapat varietas robusta biji kecil atau yang sering dikenal dengan Javanica Coffee. Javanica inilah yang sekarang sedang banyak diminati pasar, khususnya dari para roaster dan kafe. Namun, keberadaan tanaman javanica sendiri di Tembelang sudah langka. Dulu pernah banyak, tetapi karena bijinya kecil dan dianggal hanya mendatangkan sedikit keuntungan maka diganti dengan robusta biji besar.

Cita rasa javanica sendiri lebih strong, dan lebih kaya rasa. Namun begitu, menurut Pak Harjanto, pasar internasional tetap lebih meminati robusta biji besar. Kalau peminat javanica meningkat dari para roaster itu biasa saja. Roaster memang biasanya suka usil, cari sensasi dan senang bereksperimentasi.

bincang-kopi-potensi-robusta

Bincang Kopi baru berakhir sekitar pukul 19.00, sementara di luar gerimis belum berhenti. Setiba di rumah, saya bertanya sendiri, apakah masa kejayaan robusta bisa kembali terulang? Mungkin saja. Terpenting adalah hal-hal umum terus dibenahi untuk diperbaiki, mulai pemanenan, proses, roasting, sampai pengemasan. Barang bagus, pasti akan banyak yang mencari, demikian hukum pemasaran sebagaimana disampaikan Mas Didi pemegang kendali bincang kopi kali itu.

Incoming search terms:

  • varietas kopi javanica

Add Comment