KOPI WONOSOBO

kopi-daerah-wonosobo

Jusuf AN

Siang sebelum sorenya datang ke acara bincang-bincang kopi bersama Komunitas Join Kopi Wonosobo, saya membeli obat di apotiek. Bukan obat apa dan mbak apotieker yang ingin saya ceritakan, tapi apa yang saya beli di toko oleh-oleh di sebelah apotiek. Saya mampir, langsung tanya, “adakah kopi?” Ada. Dua merek. Satunya membawa nama Pegunungan Dieng, diproduksi di Banjarnegara, satunya lagi menyebut arabica premium diproduksi di Wonosobo.

Saya rasa, orang dari luar daerah yang membeli oleh-oleh itu akan mengabarkan kepada semua orang setibanya di tempat masing-massing, ini lho kopi Wonosobo. Bagaimana kualitasnya? Jika ternyata kualitasnya buruk, maka stempel yang melekat di kepala orang-orang akan menganggap bahwa kopi Wonosobo buruk. Demikian sebaliknya.

Ini tentu saja berbeda dengan Kintamani dan Gayo yang sudah masyhur, misalnya. Tidak semua oleh-oleh dari kopi Bali punya kualitas yang bagus, tapi karena nama Kopi Kintamani Bali sudah dikenal, tidak begitu soal. Kalau ada yang beli kopi embel-embel Bali dan tidak enak, orang akan cepat menyadari bahwa ia salah beli kopi, atau langsung menganggap penjualnya ngawur, bisa jadi ngambil kopi dari daerah lain dan cuma packing ulang.

Tapi Kopi Wonosobo? Kita tahu, cita rasa kopi dari masing-masing daerah punya ciri khas masing-masing. Bahkan, varietas yang sama yang ditanam di lahan yang berdekatan sekalipun memiliki karakter kopi yang berbeda. Produk kopi Wonosobo tentu saja tidak sama dengan kopi dari daerah Gayo, Aceh. Dan soal apakah kopi Gayo lebih unggul ketimbang kopi Wonosobo, siapa pun berhak menilainya. Hanya saja, parameter apa yang digunakan untuk menilai? Yang tepat bukan mengunggulkan satu dengan yang lain, melainkan upaya merawat dan memproses kopi sebaik-baiknya, dari hulu sampai hilir. Jika itu sudah dilakukan, maka Kopi Wonosobo tidak akan kalah kualitasnya dengan kopi dari daerah-daerah lain.

Menggeliatnya Kopi Wonosobo

Kopi Wonosobo kini sedang menggeliat, ini kabar menarik. Kafe dan kedai kopi yang bermunculan di sudut-sudut kota, hadirnya kelompok tani ditambah Komunitas Join Kopi Wonosobo membuat langkah memajukan kopi Wonosobo kian mantap.

Dua vairetas kopi bisa ditemukan tanah Wonosobo. Dataran tinggi Dieng, lereng Sumbing, yang sebagian besar lahannya di tanami kentang, tembakau, dan sayuran, kita sudah mulai ditumbuhi tanaman kopi. Meski belum banyak, tetapi beberapa petani mulai menyadari pentingnya konservasi lahan, dan menganggap bahwa daerahnya potensial untuk kopi arabika.

Sementara lahan-lahan di dataran rendah, banyak pula dijumpai tanaman kopi robusta. Hanya saja, perawatan dan proses panen sampai pasca panen masih belum benar-benar di perhatikan. Kopi sementara dianggap sebagai tamanam sampingan, yang dibiarkan tumbuh begitu saja di antara tanaman dan pohon-pohon yang lain. Petani sendiri cenderung menyukai jual cherry bean ketimbang harus memproses dan mengolahnya sendiri.

Proses kopi pasca panen memang butuh waktu lama, dan sebagian petani enggan repot, selain karena ingin segera menjelmakan kopi menjadi uang. Padahal, jika mau repot sedikit dan menunggu, jual green bean tentu akan lebih menguntungkan, dengan catatan jika prosesnya benar. Terlebih lagi jika mau meroastingnya sendiri dan belajar memasarkannya, petani mungkin bisa lebih sejahtera dari kopi. Inilah yang menjadi PR kita bersama.

Oleh-oleh Kopi Khas Wonosobo

Menilai kopi dari suatu daerah dengan membeli produk di toko oleh-oleh adalah satu kesalahan besar. Meski begitu, ini toh tak bisa diabaikan akan tetap berlangsung. Karenanya, membawa nama daerah untuk suatu produk, dalam hal ini kopi bukan perkara remeh. Ia tidak hanya menyangkut satu rumah produksi, melainkan semuanya.

Mungkin perlu digaris bawahi perihal kopi spesial dan kopi yang diproduksi massal, yang dengan itu kita bisa membaca peluang dan tantangan soal oleh-oleh kopi khas wonosobo.

Kopi spesial atau yang keren dengan disebut specialty coffee cenderung diproduksi secara terbatas. Di wonosobo, kita kenal beberapa merk yang memproduksi kopi spesial, di antaranya Bowongso Coffee, Kopi Tembelang, dan Pedicof (Dieng Pleteau Coffee). Produk kopi yang saya sebutkan itu, sementara dijual sangat terbatas, lebih sering bisa dijumpai di kafe, kedai, hotel, dan kalangan sendiri.

Sebenarnya, bukan semata tingkat produksi kopi spesial yang terbatas, tetapi karakter specialy coffee yang mengutamakan fresh coffee membuatnya sulit diproduksi dalam skala besar. Roasting Bean (Kopi Sangrai) specialty coffee kualitasnya masih terjaga sampai dengan 3 bulan, dan setelah itu akan berkurang. Sementara untuk kopi bubuk, cita rasa kopi spesial hanya akan bertahan dalam tempo maksimal 3 hari. Itulah kendala besar saat hendak memproduksi kopi sepesial untuk konsumsi massal. Itulah kenapa specialty coffee diproduksi terbatas, tidak ada alasan lain selain untuk menjaga kualitas. Ini tidak ringan.

Mengingat kenyataan di atas, maka memasarkan kopi spesial Wonosobo lewat toko oleh-oleh jelas akan menemui banyak kendala. Jika ia dipasarkan dalam bentuk bubuk, maka siapa bisa menjamin kopi itu akan habis dalam jangka waktu 3 hari. Lebih baik memang jika dijual biji sangrai, karena waktu 3 bulan cukuplah panjang. Namun, kendalanya tidak semua konsumen atau toko oleh-oleh memiliki atau menyediakan grinder kopi. Belum lagi biaya pengemasan kopi spesial yang baik, butuh biaya lebih, dan akibatnya harga kopi spesial juga lebih mahal.

Mengenalkan kepada khalayak luar daerah, bahwa wonosobo punya kopi yang tidak kalah dengan kopi daerah lain barangkali tidak perlu terburu-buru. Strategi yang keliru, misal dengan menjual produk kopi asal-asalan dan memberinya label kopi wonosobo, sangat rentan menciptakan citra buruk akan kualitas kopi Wonosobo. Sebenarnya sah-sah saja memang, lawong kopi yang dibikin memang dari wonosobo; Kalau toh hasilnya belum bagus, ya tidak apa-apa, karena bisanya baru seperti itu. Pemikiran cupet seperti itu, dalam jangka pendek bisa jadi menguntungkan bagi sebagain rumah produksi, tapi dampak negatifnya akan meluas dan panjang—dan akhirnya merugikan diri sendiri. Perjuangan kelompok tani, komunitas join kopi wonosobo, dan orang-orang yang menaruh harapan pada nama besar kopi wonosobo pupus oleh segelintir kalangan.

Hingga sekarang, bisa dijumpai beberapa merk kopi dengan label kopi wonosobo di toko oleh-oleh. Ia dijual dalam bentuk bubuk, dikemas dengan standing pouch tanpa valve, ada pula yang di kemas plastik yang kemudian dimasukkan ke paper bag. Saya yang penasaran, memutuskan membelinya. Setelah menyeduhnya, mendadak saya ditumbuhi kegelisahan yang dalam, dan lahirlah tulisan ini.

UMKM kopi Wonosobo masih sangat langka, dan sebelum bertumbuhan satu demi satu, mereka perlu dibuatkan wadah, juga diajak turut serta dengan komunitas join kopi. Kerja dan usaha mereka tidak bisa dihentikan, hanya perlu diarahkan. Tentu, demi kemajuan dan masa depan bersama.

Incoming search terms:

  • kopi khas wonosobo
  • kopi wonosobo
  • harga kopi wonosobo
  • produk kopi Wonosobo
  • kopi dari wono
  • jual kopi wonosobo
  • kopi sumbing wonosobo
  • kopi tembelang
  • jual kopi arabika diwonosobo
  • harga kopi green bean wonosobo

2 Comments

  1. Din April 20, 2017
    • admin September 24, 2017

Add Comment