Fun Bettle V60 Wonosobo: Lomba Menyeduh Bahagia

meja lomba

Tradisi ngopi kini benar-benar telah mengalami pergeseran. Jika dulu minum kopi lebih sering dilakukan oleh orang tua—lebih khusus lagi kakek-kakek–maka sekarang tradisi ngopi sudah mulai dilakoni oleh kawula muda. Setidaknya, hal itulah yang saya ingat atas suatu pemberitaan yang mengutip kalimat Jokowi dalam perayaan International coffee Day di Istana negara. Tentu saja pergeseran tradisi ini tidak ujug-ujug, melainkan ada sesuatu di baliknya.

Ada banyak orang yang berperan menarik minat para pemuda untuk mengandrungi kopi. Para pegiat kopi, dalam hal ini adalah orang-orang yang intens menekuni dunia kopi dari hulu sampai hilir, tentu punya jasa yang besar terhadap menggeliatnya dunia perkopian kita. Seiring dengan munculnya berbagai alat kopi, baik tool brow, maupun mesin roasting, membuat percakapan seputar kopi semakin ramai. Belum lagi soal wacana kopi, mulai sejarahnya, jenisnya, proses pasca panen, hingga munculnya kedai-kedai kopi baru membuat banyak orang mulai penasaran hingga akhirnya tersesat di jalan yang benar: mencintai kopi dengan tulus.

Ada banyak cara untuk merayakan kopi. Bisa dengan menyelenggarakn event-event, baik itu lomba seduh maupun ajang-ajang lain semisal trip kopi, lelang kopi, atau festifal kopi. Event kopi, selain mengenalkan dan mendekatkan kopi kepada para penikmat juga menjadi ajang untuk bertemunya para pelaku dan penggiat kopi. Demikianlah yang bisa saya tangkap dari beberapa event yang pernah saya ikuti, antara lain Fun Bettle V60 yang diselenggarakan oleh Join Kopi Wonosobo (beberapa waktu yang lalu).

Acara yang digelar di panggung Wonosobo Seneng Maca itu diikuti tidak hanya oleh barista, tetapi juga mereka yang baru belajar menyeduh. Dengan konsep yang sederhana, ternyata ajang tersebut menarik untuk diikuti dan jelas telah memberika efek positif bagi kemajuan kopi nusantara, mencangkup juga kopi Wonosobo tentunya.

stand join kopi wonosobo

Bagaimana Fun Bettle Berjalan?

Mula-mula panitia mempersilakan kepada teman-teman yang ingin mendaftar untuk mengambil undian. Gratis. Ada 16 nomor undian, dan bettle akan dilakukan dengan sistem gugur.  Di panggung sudah ada meja tempat alat dan bahan lomba disediakan panitia: grinder, roasted bean, paper V60, kompor listrik dan tekonya, timbangan, dan stop watch. Air? Tentu saja.

“Aturannya, peserta disediakan waktu lima menit untuk menyeduh. Mau menggunakan teknik penyeduhan apa pun terserah, yang jelas metodenya adalah V-sixty. Hasil akhir kopi seduhan minimal 150 gr, jika kurang dari itu maka akan diskualifikasi. Soal berapa gram kopi yang akan digunakan terserah saja.” Demikian Mr. Didik yang mengawal acara berkali-kali mengingatkan para peserta.

Perlombaan Dimulai

dua peserta fun bettle

Dua peserta maju ke panggung, menyeduh bersama dengan satu grinder. “Memang sengaja hanya disediakan satu grinder, biar akur,” seloroh Mr.Didik. Setelah kopi digiling, filter dibilas, dan suhu air yang diinginkan sudah tercapai, Mr. Didik memberikan aba-aba start. Seringkali tidak sampai lima menit sebagai batas waktu habis, peserta sudah menyelesaikan seduhannya.

Dua cangkir kopi dibawa ke meja juri untuk dinilai. Ini lomba tidak main-main, tetapi tidak juga serius amat apalagi kaku. Ajang inii tetap mengedepankan asas kebahagiaan dan saling percaya. Panitia menunjuk orang yang lidahnya sudah dikenal mampu menguji cita rasa kopi. Beberapa orang yang ditunjuk antara lain, Mas Eed (Bowongso Coffee), Om Harjanto (De Koffie), Mas Hafit (‘D Sastro), Mas Hendro (Trotoar Coffee), Frans (Gesang Coffee), Mas Tangin (Tang’n Roastery), Iyun (Bowongso Coffee), Danny (.Dot, Penggiat Kopi), dan lain sebagainya.

Saya sendiri tidak meragukan kapasitas mereka dalam uji cita rasa, dan para peserta lomba maklum adanya. Terlebih dalam satu sesi lomba juri yang ditunjuk berjumlah tiga orang. Cangkir peserta diberi huruf A dan B, lalu diputar-putar sebelum ditempatkan di meja juri, sehingga penilaian juri netral. Dan terakhir, setelah icip beberapa kali juri lalu mengacungkan jarinya secara serentak ke arah cangkir yang dinilainya terbaik. Maka, hasilnya tidak mungkin draw, karena pastilah ada satu cangkir yang ditunjuk oleh dua orang juri. Tapi seringnya ketiga juri menunjuk cangkir yang sama. Padahal sebelumnya mereka tidak berdiskusi dulu. Setelah aba-aba, “satu, dua, tiga,” maka eng-ing-eng, ketemulah seduhan yang terbaik.penilaian dewan juriBegitu seterusnya sampai delapan kali sesi lomba. Mr. Didik memanggil peserta, dua orang maju, lalu tiga orang juri ditunjuk, dan terpilihlah pemenang untuk maju ke babak berikutnya.

Ganti Kopi

Di babak seperdelapan besar, kopi yang digunakan untuk lomba diganti. Panitia sengaja tidak memberitahukan asal kopi dari mana, tetapi sebelum babak kedua dimulai, para peserta yang masuk dalam delapan besar dipersilakan untuk cupping test. Dengan begitu, peserta diharapkan akan bisa memanupulasi hasil seduhannya sesuai yang diinginkan.

persiapan cupping test

Pada babak seperempat dan semi final masih menggunakan kopi yang sama dan belum ada aturan khusus. Tetapi begitu masuk ke final, Mr. Didik memberitahukan aturan khususnya, yakni kopi harus digiling pada nomor grinder paling kecil yang akan menghasilkan kopi terlembut. Dua peserta yang masuk ke babak final adalah Eppo (Barista Djagongan Djadoel) dan EmTe (Konseptor Kedai Kokas dan AN Kopi).

Tugas barista adalah pintar-pintarnya memanipulasi rasa. Meraka tentu sudah sangat paham bagaimana agar gilingan kopi yang lembut tersebut tetap bisa menghasilkan cita rasa kopi yang seimbang. Maka mereka tentu berpikir keras untuk memilih suhu yang tepat, perbandingan air dan kopi, lama penyeduhan, dan teknik putaran air.

para pemenang fun bettle

Begitulah. Dan pemenangnya adalah… “Sebentar…” Tidak penting benar siapa yang menang. Dan memang event tersebut bukan semata untuk mencari yang terbaik, melainkan sebagai media belajar bersama dan upaya agar masyarakat Wonosobo mengenal dan mencintai kopi, khususnya kopi lokal. Tetapi untuk bisa lolos sampai babak final juga tidak mudah dan sepatutnya kita memberkan penghargaan kepada dua orang finalis tersebut. Dan akhirnya, terpilihlah EmTe sebagai pemenangnya. Om Harjanto memberikan bebebapa alasan kenapa memilih seduhan EmTe sebagai yang terbaik. Tidak ada yang protes. Semua bergembira.

Sampai jumpa di event berikutnya!

(red-yusuf)

 

Add Comment