Bowongso Trip Coffee: Mengaji Kopi dari Para Petani

Jusuf AN

Di lereng sumbing, pada lahan-lahan
Miring. Aku melihat mereka memanggul syukur
Kabut dalam diriku berpendar oleh cahaya
Yang terpancar dari keringat mereka

Anggaplah baris-baris di atas bukan puisi, sekadar ungkapan perasaan setelah mengikuti trip coffee di Desa Bowongso, Kecamatan Kalikajar Kabupaten Wonosobo pertengan November 2016. Menghirup udara segar dan aroma kopi, nyawang hijau daunan, menapaki jalan mendaki, tebing curam, perempuan yang menggendong kayu bakar, juga bau busuk lemi, tak terhindarkan menetaslah kata-kata. Merenungi kehidupan para petani melahirkan empati. Dan kopi? Tak akan pernah tuntas dibincangkan tujuh hari tujuh malam.

trip coffee bowongso

Menjadi suatu keistimewaan bagi saya bisa ikut Bowongso Trip Coffee bersama teman-teman Blogger dari beberapa daerah. Ada Aby Jakarta, Olipoil Purwokerto, Pradna Banyumas Purwokerto, Lutfi Banjarnegara, Erwin Abdillah+Wening+Kinan, Tongat Setiyadi dan saya dari Wonosobo. Dipandu Dhani Bule, volunteer Bowongso Coffee, perjalanan kami menjadi semakin seru, penuh cekikik.

Sore itu gerimis, kami dijemput di depan gedung Dieng Cinema Wonosobo. Soal kenapa tempat ini dipilih, tidak lain karena letaknya yang berdekatan dengan kantor Wonosobo Ekspres. Erwin Abdillah sebagai salah satu junalis di koran itu, sehingga kami bisa menginapkan sepeda motor, selain main catur sembari menunggu jemputan. Pukul 16.30 Zebra Jepang tua yang kami tunggu tiba, melaju tanpa kendala.

Setelah melalui perjalanan kurang lebih 1 jam, melintasi medan curam yang tidak semuanya mulus, akhirnya Zebra yang kami tumpangi berhenti di base camp pendakian Sumbing. Langit sudah gelap, hujan sudah berhenti, saya nyalakan rokok lagi.

Perjalanan akan selalu menyisakan kenangan. Dan pada setiap kenangan terkandung banyak pesan (ibrah) bagi yang sudi mencari untuk kemudian memungutnya. Demikian pula wisata, tentu saja bukan hanya ajang melepas penat, tertawa dan bersenang-senang. Jika hanya untuk itu, Dinas Pariwisata sebaiknya mengganti nama saja menjadi Dinas Hiburan. Berwisata, melancong, traveler, halan-halan, atau istilah lain yang serupa itu akan lebih bermakna jika dijadikan sarana untuk belajar hal-hal baru (tempat, orang, ilmu), juga mendekatkan kita Pemilik Alam Raya. Ck…ck…

O, bumi yang bundar dan luas tak terkira. Betapa usia kita tidak akan pernah cukup untuk menjejaki setiap sudutnya. Jules Verne barangkali bisa menjelaskan langkah mudah mengelingi bumi dalam tempo 80 hari sebagaimana tertuang dalam novelnya “Around the Wordl in 80 Days”. Tetapi akan selalu ada tempat-tempat tak terjamah, desa-desa yang dianggap tidak penting, dan daerah-daerah perawan yang tak pernah terpikirkan.

Mengunjungi tempat-tempat wisata yang sering dikunjungi orang bagus saja sebenarnya, terlebih jika itu Ka’bah atau menara Eifel – saya juga mau diajak. Tapi mengunjungi tempat asing, yang indah, unik, dan masih jarang didatangi orang tentu punya keistimewaan sendiri.

Sejak awal, tujuan pejalanan kami mengunjungi Desa Bowongso untuk mencari tahu lebih banyak soal kopi dari daerah ini. Trip Coffee, demikian istilah yang ngetrennya. Desa Bowongso dipilih karena ia punya sejarah kopi yang menarik untuk diikuti.

Selama ini, kalau kopi Indonesia disebut, yang akan muncul adalah Gayo, Flores, Kintamani, Lampung, Papandayan, Bandung. Wonosobo hampir selalu tidak ditulis dalam artikel-artikel yang membahas spesiality coffee. Padahal kopi Bowongso yang sudah ditanam sejak 2010 dan panen pertama tahun 2013 sangat bisa diandalkan, dan citarasanya terbukti mampu bersaing dengan kopi dari daerah-daerah yang sudah tekenal.

Begitu kami tiba di base camp pendakian Sumbing, sekelompok pemuda menyambut kedatangan kami. Kami langsung dipersilakan untuk memasuki sebuah rumah berlantai dua yang ternyata adalah rumahnya Mas Eed, ketua kelompok tani Bina Sejahtera. Di meja sudah tersuguh botol-botol Cold Brew dan brewing tool yang lengkap: dripper dan filter V60, teko leher angsa yang dipanaskan dengan air listrik, timbangan, sendok, gelas, rokok (eh, yang terakhir masuk nggak ya?).

cold-brew-bowongso

Demikianlah, seakan tak sabar, pertanyaan-pertanyaan seputar sejarah dan kiprah kopi Bowongso terus terlempar. Mas Eed, Dani Bule, dan para pemuda yang ikut berkumpul di ruangan itu mejawabnya penuh kesabaran. Perbincangan mengalir, sempat rehat sebentar untuk shalat maghrib dan makan malam, dan kembali mengalir sampai larut malam.

Desa Bowongso sebenarnya sangat berpotensi didatangi banyak orang. Hingga saat ini, memang sudah banyak orang luar daerah bertandang ke Bowongso, bahkan bule dari Amerika pernah berkunjung ke mari. Selebihnya, di luar seremonial tahunan Maulid Nabi dan Isra’ Mikraj yang meriah, Desa Bowongso juga menjadi jalur pendakian Gunung Sumbing.

Sebagaimana keterangan dari para pemuda, setiap minggu pasti ada pendaki melintasi jalur itu, dan pada waktu-waktu tertentu (Tahun baru Masehi dan Hijiyah, HUT RI) jumlah pendaki membludak. Kalau begitu Desa Bowongso sudah masyhur, Sedulur. Tetapi, warga (tidak seluruhnya sih) Bowongso sadar, terkenal saja tidak cukup. Warga Bowongso juga sudah cukup makmur dari hasil alamnya yang melimpah, bisa dilihat dari bangunan tempat ibadahnya (Masjid dan mushala yang megah). Tapi lagi-lagi, makmur saja tidak cukup, Sodara. Dan yang utama, makmur sekarang, belum tentu makmur yang akan datang.

Lahan pertanian di lereng Sumbing, khususnya di daerah Bowongso, selama bertahun-tahun telah dieksploitasi. Ada berbagai jenis tanaman, seperti loncang, kubis jawa, bawang, kentang, dan terbanyak adalah tembakau. Subur, memang. Tapi bertani di lereng gunung sama sekali tidak ringan. Biaya pengolahan dan pupuk kadang kadang juga tidak sebanding dengan hasil. Dan yang merisaukan, jarang sekali pemuda, the next generation, yang meminati bidang pertanian. Jika demikian terus dibiarkan, kita bisa bayangkan masa depan Bowongso di kemudian hari.

Untunglah masih ada sebagian warga yang tanggap dengan keadaan dan tidak hanya mbebek apa yang sudah lumrah. Belok kiri, memilih jalur baru dalam pemanfaatan lahan, yang sebelumnya belum pernah ada: KOPI.

Pemuda yang Berani Bertani

Memilih jalan yang berbeda dengan orang kebanyakan sudah pasti dianggap tidak wajar, jika tidak gila. Tetapi inilah jalan para Nabi. Ketika Ibrahim a.s menentang kepercayaan nenek moyang, beliau dihukum bakar, dan Muhammad saw dilempari batu, diusir dari tanah kelahiran. Apa yang dialami Mas Eed dan anggota kelompok tani Bina Sejahtera memang tidak setragis kisah para Nabi. Namun, selentingan miring dan tanggapan tidak mengenakkan sudah pasti ada. “Kopi tinggal beli di warung saja kok, ndadak nanam.” Demikian salah satu respon penduduk ketika pada tahun 2010 Kelompok Tani Bina Sejahtera mulai menanam bibit kopi yang didapat dari dinas pertanian.

Sampai sekarang, anggota Kelompok Tani Bina Sejahtera ada 22 orang, dan semuanya adalah anak muda. Ini hebat betul, pikir saya. Bagi anak muda, menjadi petani tidak hanya membutuhkan cangkul, tetapi juga keberanian. Fenomena ini benar-benar membuat saya terkagum dan melepaskan doa: “O masa depan, berpihaklah kepada mereka.”

Menuju Gardu Pandang

perjalanan-ke-gardu-pandang

Ketika adzan subuh bersahutan di langit Bowongso, saya terbangun, tegerak untuk membenarkan selimut. Barulah ketika pukul lima saya benar-benar bangkit untuk bersujud. Saya jadi berpikir: pahala shalat subuh di Masjid Bowongso bisa jadi lebih banyak ketimbang Shalat jama’ah Subuh di Makkah. Selimut dan air sedingin es adalah sepasang setan yang punya pengaruh besar bagi seseorang untuk melanjutkan tidur ketimbang berwudhu dan berjalan ke Masjid. Itu saja sih logikanya.

Mestinya kami akan mengawali perjalanan pukul 05.00: menuju kebun kopi, menyaksikan langsung bagaimana para petani mengambil kotoran luwak liar. Tetapi berdasarkan keterangan dari Mas Eed, mengambil kotoran luwak untuk kemudian diproses menjadi kopi unggulan halal berdasar fatwa MUI, tidak mudah. Cuaca yang tidak menentu mengakibatkan kotoran luwak tidak boleh diambil setiap hari. Jika malam diguyur gerimis, maka kotoran luwak sudah terkontaminasi dan tidak bagus lagi untuk diproses, dan karenanya tidak diambil.

Kami baru keluar sekitar pukul 06.00, setelah selfie-selfie di loteng rumah. Dengan sebuah pick up kami meluncur menyusur jalan berbatu, menanjak, menuju puncak. Puncak? Bisa saja sebenarnya, hanya butuh waktu sekitar 6 jam untuk bisa sampai di puncak Sumbing. Tetapi kami tidak menyiapkan perbekalan (terutama mental), sehingga tujuan kami pagi ini hanya sampai di Gardu Pandang.

trip-coffee-wonosobo

trip-coffee-bowongso

Setelah jalan yang bisa dilalui mobil habis, kami melanjutkannya dengan jalan kaki sembari merenungi repotnya jadi petani. Sesekali kami berpapasan dengan ibu-ibu menggendong kayu bakar, juga sepeda motor petani yang mebawa hasil panen dan pupuk. Medan yang kami lalui sama sekali tidak tepat dilalui si Vega apalagi Astea Impresa. Sempit, licin, curam. Tetapi toh kami menyaksikan sendiri motor-motor tua itu melaju dengan santainya. Agaknya pengauh joki lebih utama ketimbang tipe kendaraannya.

Setibanya di Gardu Pandang sudah ada dua Mas Eed dan teman-temannya yang sudah meluncur terlebih dulu dengan motor cross mereka, membawa ransel berisi sarapan pagi dan seperangkat alat seduh kopi. Kabut yang tak juga beringsut membuat pandangan kami sangat terbatas. Tak apa, tak ada gunanya menyalahkan cuaca. Kami duduk melingkar, memulai sarapan, dilanjutkan ritual dripper V60. Ngopi di kafe sih biasa, tapi ngopi di ketinggian 2000MdPL, digardu pandang Sumbing ini, wuuuhhh. Sensasinya itu, gimana gitu…

ngopi-di-lereng-sumbing

foto: Erwin Abdillah

Erwin, Wening dan putrinya, Kinan, terpaksa harus turun terlebih dulu, karena Kinan yang belum genap 6 bulan rewel, mungkin kedinginan. Saya dan lainnya masih bertahan cukup lama, berharap kabut cepat sirna dan kami bisa saksikan lukisan semesta di bawah sana. Tapi begitulah, kabut kukuh bertahan, dan pada akhirnya memilih untuk turun, menuju perkebunan kopi.

Perkebunan Kopi Bowongso

lahan-pertanian-kopi-bowongso

Mas Eed: Pawang Kopi Wonosobo

Berapa luas kebun kopi di Bowongso? Pertanyaan tersebut akan sangat sulit dijawab. Tetapi kalau anda bertanya, berapa jumlah bibit kopi yang sudah ditanam, maka itu bisa dijawab dengan mudah, karena memang ada datanya. Jadi berapa? Ada lebih dari 70.000 bibit, tersebar di sela-sela tanaman lain.

Ya, tanaman kopi di daerah Bowongso menjadi tanaman tumpangsari. Kita bisa menemukannya di antara tanaman tembakau, kubis jawa, waluh jipan, jagung dan cabai. Memang ada beberapa lahan dengan kopi yang mendominasi, dan itulah yang kami kunjungi.

lahan-kopi-arabika-lereng-sumbingbelajar-kopi-dari-petani

Meski sama-sama jenis kopi arabika, namun ternyata ada dua varietas kopi di lahan tersebut, yakni S795 dan Andungsari (seingat saya sih itu, tolong kalau salah dikoreksi ya). Masa panen masih cukup lama, sehingga kami hanya bisa melihat beberapa biji saja yang merah, barangkali sengaja dibiarkan sebagai umpan luwak liar.

Rumah Kopi Bowongso

rumah kopi bowongso

Inilah halaman rumah produksi sekaligus base camp Kelompok Tani Bina Sejahtera. Begitu masuk ke rumah ini, kita akan dibuat kagum dengan mesin roasting buatan dalam negeri dengan merk Froco. Mesin ini hanya berkapasitas 1 kg sekali roasting, tapi saat ini harganya dibandrol lebih dari Rp.120 juta. Bukan main.

Sampai saat ini, hanya Mas Eed yang terbukti mampu menaklukkan rahasia roasting dengan mesin ini. Ia telah beratus kali melakukan percobaan roasting yang semua itu dicatatnya dalam lembaran kertas. “Catatan roasting saya sudah segini,” katanya, sembari menggerakkan tangan menyimbolkan tumpukan kertas yang setebal 50 cm. Saya langsung terkenang Thomas Alva Edison yang juga telah mengalami ratusan kegagalan dalam percobaannya menghidupkan lampu. Mas Eed barangkali tidak mengalami kegagalan dalam uji coba roastingnya, tetapi percobaan-percobaan itu dilakukan untuk menemukan hasil roasting yang pas.

mesin-roasting-kopi-bowongso

Di ruang yang sudah diseting seperti kafe ini kami tinggal pilih ingin minum kopi apa? Selain kopi Bowongso luwak, natural wash dan full wash, ada juga kopi lanang, kopi robusta Tembelang dan kopi dari beberapa daerah. Juga ada cascara, teh yang dibuat dari kulit kopi. Selain mencicipi cascara yang rasanya seperti teh hanya saja ada manis-manisnya, saya kemudian mencoba menyeduh wild luwak coffee dengan metode tubruk. Wuiiih! Harum aroma dan rasa asamnya sudah hilang jauh sebelum saya menuliskannya, tetapi kenangan saat menyeduh dan menyeruput kopi itu kok ya masih mengendap di kepala. Dan tulisan ini, mengekalkannya!

rumah-produksi-bowongso-coffee

Sebelum pulang, kami dengan suka rela membeli produk-produk kopi bowongso sebagai oleh-oleh mantan pacar atau mantan beneran. Sekali lagi kami membeli, tidak gratis, dan kami bangga. Perjalanan dua hari satu semalam ini membuat kami semakin menyadari bahwa untuk menciptakan kopi spesial butuh proses panjang, penuh kesungguhan. Pengetahuan itulah yang menumbuhkan kecintaan, kebanggaan, dan kerelaan untuk mengeluarkan isi dompet.

Sebelum menyudahi tulisan ini, sebagai penyuka kopi dan jalan-jalan, saya sangat merekomendasikan Bowongso sebagai tujuan trip coffee. Anda berminat? Janjian dulu, biar bisa bertemu dan dijamu sama teman-teman di sana. Untuk memudahkan, mungkin anda bisa menghubungi Dany Bule, CEO Dot.Cloth, Erwin Abdillah, atau Wening Tyas Suminar. Salam

Incoming search terms:

  • kebun kopi wonosobo
  • kopi arabika bowongso

Add Comment